Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tulisan Sendiri Tapi Terdeteksi Pakai Ai, Gimana Dong?

Tiga atau empat hari yang lalu, setelah membaca beberapa berita terbaru di beranda.co.id, secara kebetulan saya menemukan sebuah tawaran menulis artikel bahasa Inggris. Waktu itu, saya lumayan tertarik karena fee yang ditawarkan per artikel sangat menggiurkan.

Jumlah fee yang (menurut saya) sangat tinggi tersebut sebenarnya nggak terlalu aneh, mengingat yang diminta adalah artikel berbahasa Inggris.

Tapi, selain syarat (bahasa Inggris) tersebut, sebenarnya, masih ada 2 syarat lain yang menurut saya sangat berat untuk dipenuhi. Kedua syarat tersebut adalah, artikel nggak boleh hasil plagiat dan nggak boleh ditulis dengan artificial intelligence atau Ai (artikel generator).

Singkat cerita, saya mencoba mencari tulisan-tulisan lawas saya yang saya tulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, kemudian saya terjemahkan ke bahasa Inggris.

Untuk menyempurnakan grammar pada hasil terjemahan tersebut, saya menggunakan beberapa Ai. Setelah artikel tersebut selesai, saya langsung mengirimkannya lewat email kepada tim yang bertugas untuk memeriksa setiap artikel yang masuk.

Beberapa hari kemudian, saya email saya dibalas oleh tim yang memeriksa artikel. Mereka bilang kalau artikel yang saya tulis nggak lolos plagiarisme dan Ai. Itu artinya, artikel saya benar-benar terdeteksi sebagai hasil plagiat dan hasil tulisan dari Ai.

Karena penasaran, saya mencoba mengecek tulisan tersebut di salah satu Ai Detector (zerogpt.com). Dan, hasilnya sedikit bikin saya terkejut dan nggak menyangka jika skor Ai yang terdeteksi lebih dari 80%.

Tulisan hasil Ai terdeteksi Ai-Detector

Nggak kehilangan akal, saya justru nekat meminta Chat-GPT buat nyempurnain grammar pada tulisan tersebut plus mengubah beberapa kalimat agar terdengar lebih natural seperti penutur Inggris asli.

Setelah saya meminta Chat GPT untuk memperbaiki grammar dan menulisnya agar terdengar seperti American native speaker (penutur asli Inggris Amerika), hasilnya berubah nyaris 360 derajat.

Wow! Sepenuhnya saya benar-benar nggak nyangka! Soalnya, tulisan yang tadinya terdeteksi 80% lebih sekarang jadi 6.8% aja. Gile bener! Ini, benar-benar surprise sih buat saya!

Artikel bebas Ai-Detector

Padahal, jelas-jelas tulisan tersebut diperbaiki seratus persen dengan menggunakan Chat GPT yang notabenenya adalah Ai (paling populer di jagat raya).

Terdengar ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Karena masih penasaran, saya mencoba mengecek tulisan terbaru saya, yang benar-benar saya tulis 100% tanpa bantuan Ai .

Lagi-lagi saya dibuat terkejut. Nggak sedikitpun di benak saya pernah terlintas kalau tulisan itu bakal dianggap 69% hasil Ai.

Hasil tulisan sendiri yang terdeteksi sebagai hasil Ai

Bagaimana dengan tulisan ini? Jujur saya sangat penasaran dengan hasilnya. Apakah tulisan ini bakal dianggap mayoritas ditulis dengan menggunakan Ai ataukah manusia?

Setelah tulisan ini saya edit dan selesaikan, saya berencana bakal langsung mengeceknya dengan menggunakan Ai detector Zero GPT. Dan, inilah hasilnya.

Hasil Cek Artikel Buatan Ai atau Buatan Manusia

Kayaknya, gaya menulis saya ini masih terlalu mirip dengan gaya menulis Ai sehingga dideteksi sebagai hasil tulisan Ai.

Bagi kalian yang pernah membaca tulisan-tulisan saya sejak awal, kalian pasti sudah bisa mengenali gaya menulis yang saya pakai. Gaya menulis saya nggak banyak berubah dan cenderung agak formal. Sehingga sangat mirip dengan hasil tulisan Ai seperti Chat GPT dan lain sebagainya.

Selain penasaran dengan hasilnya, saya juga penasaran bagaimana Google menangani masalah ini. Saya yakin, mereka juga pasti punya tools buat ngedetek tulisan-tulisan yang dibuat pakai Ai.

Kalau tulisan-tulisan seperti tulisan ini dideteksi sebagai tulisan yang mayoritas dibuat dengan Ai, saya khawatir, akan muncul anggapan bahwa manusia lah yang meniru Ai, bukan sebaliknya, Ai yang meniru (gaya tulisan manusia).

Karena kalau saya lihat-lihat, semakin baik struktur tulisan dan semakin formal tulisan tersebut, akan semakin tinggi skor Ai yang akan didapatkannya.

Hal ini coba saya buktikan sendiri dengan menggunakan tulisan yang sama, yaitu tulisan yang saya buat ini. Hanya dengan mengganti (replace) kata “tidak” dengan kata “nggak,” saya mendapati kalau skor Ai-nya langsung turun. Walaupun nggak drastis-drastis amat, tapi ternyata hal tersebut langsung memberikan dampak.

Cara Menulis agar Artikel Tidak Dianggap Buatan Ai

Apakah itu artinya kita (manusia) sebagai penulis nantinya akan dipaksa untuk menulis dengan gaya gaul atau gaya-gaya yang nggak formal (kasual), hanya demi menghindari agar tulisan-tulisan kita nggak terdeteksi sebagai hasil Ai. Tapi sampai kapan? Karena saya yakin, cepat atau lambat Ai juga bakal mempelajari dan kemudian mengimitasi gaya menulis gaul tersebut.

Tetaplah Menulis! Jangan Takut pada Ai Detektor

Bagi saya, saya tetap berprinsip, saya nggak akan berhenti menulis sekalipun hasil tulisan saya dianggap hasil Ai oleh Ai-Detector .

Tapi yang menjadi concern saya adalah, apabila tulisan-tulisan yang terdeteksi lebih banyak menggunakan Ai tersebut nantinya akan disingkirkan oleh Google. Sehingga, tulisan-tulisan kita justru akan kesulitan mejeng di page one-nya Google.

Tips Menulis agar Tidak Terdeteksi Sebagai Hasil Ai

Berbagai hasil Ai Detector yang saya ceritakan di atas tadi sukses bikin saya penasaran setengah mati. Dan, mencoba melakukan beberapa riset serta menambah literasi dengan membaca sejumlah referensi artikel di website.

Dari berbagai sumber tersebut, saya dapat info kalau ‘gaya menulis’ memang jadi salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi hasil di Ai-Detector.

Faktor kedua adalah, karena data-data yang kita masukkan bukanlah data-data baru. Melainkan data-data lawas yang sudah ada sejak lama. Dan, di sinilah masalahnya. Sebab, sebagian besar kita, umumnya lebih banyak menggunakan tulisan atau artikel yang ada di website sebagai referensi. Sehingga, (diakui atau tidak) data yang kita tampilkan nggak jauh berbeda dengan data yang dimiliki oleh artikel generator.

Begitu juga dengan tata bahasa yang kita pakai. Kalau kita menggunakan tata bahasa yang terlalu formal atau konvensional, Ai detector akan langsung mendeteksi artikel kita sebagai artikel hasil Ai.

Supaya skor Ai pada tulisan kita nggak terlalu tinggi, kita harus menerapkan kebalikan dari poin-poin yang sudah saya sebut di atas tadi. Ya, misalnya menulis dengan gaya bahasa gaul dan memilih kata-kata yang nggak formal. Dan, kita juga benar-benar dituntut untuk menampilkan informasi-informasi terbaru yang belum tersedia di Ai.

Pasalnya, sejumlah Ai seperti Chat GPT, umumnya hanya memiliki data-data yang bersumber 2 tahun lebih lawas. Itu artinya, kalau sekarang kita berada di tahun 2023, maka data-data yang ada di chart GPT mungkin berasal dari tahun 2021.

Tips menulis lainnya agar nggak terdeteksi sebagai hasil Ai adalah dengan memperbanyak referensi. Terutama referensi dari situs-situs yang banyak memuat berita kekinian atau info-info terbaru.

Dari sekian banyak situs yang biasa saya jadikan referensi, beranda.co.id adalah salah satunya. Alasan saya menjadikan situs berita ini sebagai referensi sebenarnya simple aja – karena berita-berita yang dihadirkan relatif up to date. Misalnya seperti, berita seputar ekonomi, UMKM, teknologi, olahraga, startup, travelling, hingga berita-berita valid lainnya tentang Startup yang ada di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia.

Jadi, buat kalian yang pengen menghindari agar tulisan nggak terdeteksi sebagai hasil Ai dan mau mencari referensi atau info terbaru, kalian bisa mempertimbangkan website berita seperti web Beranda sebagai referensi.

Post a Comment for "Tulisan Sendiri Tapi Terdeteksi Pakai Ai, Gimana Dong?"