Cara Saya Mengatasi Mata Sepet dan Perih Akibat Kebanyakan Menatap Layar Komputer
Sebagai gadget enthusiast, hidup saya itu simpel. Kalau bukan ngetik, ya scrolling. Kalau bukan scrolling, ya staring. Tapi intinya, semuanya dilakukan dengan menatap layar.
Sehari-hari saya nulis artikel seputar smartphone, komparasi chipset, sampai debat abadi Android vs iOS atau Windows vs Linux yang nggak pernah ada ujungnya.
Secara teori saya paham semua teknologi layar, dari OLED, refresh rate 120Hz, sampai fitur eye-care mode yang katanya bikin mata adem. Ironisnya, saya hafal spek layar tapi lupa spek mata sendiri.
Rata-rata screen time saya di atas 6 jam sehari. Itu kalau lagi santai. Kalau lagi kejar tayang? Bisa 10-12 jam. Dan saya tidak pakai kacamata anti radiasi.
Bukan karena sok kuat, lebih karena sok keren. “Ah, masih kuat lah,” pikir saya. Usia yang sudah tidak 20-an lagi ternyata tidak bisa diajak kompromi.
Beberapa minggu terakhir adalah neraka deadline. Ada 7 artikel review yang harus naik dalam 5 hari. Ada brand yang mau launching HP baru, minta artikel tayang barengan jam 10 pagi.
Otak dipaksa kerja keras, jari dipaksa ngetik, mata dipaksa melek. Awalnya cuma Mata SEpet, PErih, LElah, yang klasik. Yang kalau dikucek sebentar atau dialihkan lihat daun-daun di luar jendela, hilang sendiri.
Saya anggap itu SePeLe. Ya namanya juga kerja depan layar, jadi wajar kan?
Setelah menunggu sekitar 3 minggu, momen tersebut akhirnya datang juga.
Momen yang Sudah Lama Saya Nantikan
Saya dan istri sudah janji mau short trip ke Gunung Embun. Bukan trip hedon, cuma pengen lihat pemandangan unik, ngopi, dan hunting foto buat bahan artikel “5 Smartphone Mid-range dengan Kamera Terbaik Buat Traveling.”
Sudah saya rencanakan shot list-nya, bawa 2 hp buat komparasi. Ini momen emas, kerjaan rasa liburan.
Malam sebelum berangkat, saya masih kejar tayang satu artikel terakhir. Jam 1 malam. Ruangan cuma diterangi lampu meja dan cahaya monitor 27 inch.
Tiba-tiba pas lagi ngetik paragraf penutup, mata kiri saya kerasa perih dan nggak nyaman. Bukan perih yang biasa. Rasanya seperti ada pasir halus mengganjal di dalam kelopak mata. Saya kucek. Makin perih.
Saya ingat betul, jam itu saya lagi ngetik kalimat, “Sektor kamera menjadi nilai jual utama...”
Saya berhenti. Saya coba kedip cepat-cepat. Air mata seperti nggak keluar. Justru rasanya kering, sepet, dan panas.
Melihat saya sibuk ngucek mata, istri bertanya,
“Kamu kenapa sih, dari tadi megang-megang mata terus?”
“Kayak ada kelilipan, padahal nggak ada apa-apa. Rasanya perih banget.” Jawabku.
“Itu gejala mata kering, deh kayaknya.”
“Ah, paling capek doang,” jawab saya sok idealis dan mengabaikan dugaan istri saya.
Ketika Mata Mengacaukan Semua Rencana
Besok paginya, bangun tidur bukannya segar, mata malah rasanya kayak kelilipan. Saya cepat cepat ke cermin dan mencoba mencari sesuatu di mana. Tapi nggak ada apa-apa di sana.
Saat matahari mulai terbit, lihat cahaya matahari pagi yang biasanya syahdu, sekarang jadi menyilaukan dan perih.
Saya coba paksakan buat berangkat. Tapi di tengah jalan, saya nggak bisa lihat viewfinder hp dengan jelas. Fokusnya buyar. Setiap kedipan rasanya nggak melumasi apa-apa. Akhirnya saya nyerah.
“Kita putar balik aja ya. Mata rasanya perih banget.”
Istri saya cuma bilang, “Tuh kan. Dibilangin gejala mata kering, ngeyel.”
“Mata SePeLe Jangan Disepelein” imbuhnya.
Jujur, rasanya nyesek. Bukan cuma karena gagal foto-foto, tapi karena saya harus menunda pekerjaan yang seharusnya nggak boleh ditunda.
Bayangkan, seorang penulis teknologi yang tumbang bukan karena CPU overheat, tapi karena matanya sendiri yang dry. Sungguh plot twist yang menyedihkan tapi agak lucu kalau dipikir-pikir.
Ternyata Gejala Mata SePeLe (Sepet, Perih, Lelah) Jangan Disepelein! itu nyata. Kita sering menganggap mata sepet itu cuma kurang tidur, mata perih itu cuma kebanyakan AC, mata lelah itu cuma butuh kopi.
Padahal kalau dibiarkan, dia bisa merusak ritme kerja dan kualitas hidup. Apalagi buat kita yang hidupnya di depan layar, mata itu bukan pelengkap, dia adalah modal utama.
Pelajaran Mahal dari Mata Kering
Setelah gagal nge-trip, saya buru-buru riset. Bukan riset tentang hp, tapi riset mata kering. Ternyata Gejala Mata Kering memang musuh laten para pekerja digital.
Terlalu lama menatap layar bikin frekuensi kedipan kita turun drastis, dari normal 15 kali per menit jadi cuma 5-7 kali. Air mata menguap lebih cepat. Ditambah AC ruangan, polusi, dan usia.
Saya mulai mengubah beberapa kebiasaan, yang ternyata cukup membantu. Mulai dari,
Rutin mengalihkan pandangan mata. Sekali-sekali saya melirik ke tempat yang agak jauh. Lihat ujung genteng tetangga, lihat pohon mangga, lihat cicak di dinding. Intinya kasih jeda.
Trus, berusaha nggak pelit buat kedipin mata. Solanya, pas kita fokus, apalagi lagi kalau lagi ngetik alur benchmark, aku itu suska lupa kedip. Kedipnya jadi irit banget. Padahal kedipan itu wiper alami.
Kurangin kecerahan layar gadget. Dulu monitor saya brightness-nya 100%, kontras mentok. Alasannya biar warna akurat. Sekarang saya turunin brightness, aktifin night light atau warm light setelah maghrib, dan jaga jarak. Idealnya se-lengan lah.
Mulai rajin minum air putih. Menurut saya, ngopi boleh aja, tapi air putih nggak boleh dilupakan. Karena dari banyak artikel yang saya baca, dehidrasi itu ngaruh ke produksi air mata.
Kadang kalau udah perih banget, saya kompres pakai handuk hangat 30 detik sambil merem. Berasa kayak lagi spa untuk kura-kura yang kelelahan. Simple, tapi mata jadi lebih rileks.
Tapi jujur, kalau sudah terlanjur kena fase pasir-mengganjal itu, teori doang nggak cukup. Kita tetap butuh bantuan instan.
Untung Ada INSTO DRY EYES
Di sinilah peran istri saya sebagai menteri kesehatan keluarga beraksi.
“Di kotak obat kayaknya masih ada INSTO DRY EYES yang dulu, coba pakai dulu,” katanya sambil menunjukkan letak kotak obat dengan mulutnya.
Kebetulan sekali obat tetes mata ini memang sudah standby di rumah. Istri saya memang tipe yang stok P3K-nya lebih lengkap dari minimarket.
Saya percaya aja dan nggak baca kandungan atau kegunaan tetes mata ini, saya hanya percaya ini pasti untuk Gejala Mata Kering.
Benar saja, setelah lebih nyaman dan bisa fokus membaca, saya baru tahu kalau INSTO DRY EYES mengandung bahan yang mirip air mata alami, jadi bisa bantu melumasi dan melembapkan.
Setelah saya coba tetesin insto dry eyes 2 tetes di mata kiri, 2 tetes di mata kanan. Dinginnya pas, nggak perih.
Saya kedip-kedip pelan. Satu menit... dua menit... sensasi ganjalan pasir itu pelan-pelan memudar.
Rasa sepet yang tadinya bikin pengen merem terus itu hilang. Mata yang tadinya berat, jadi lebih enteng dan lembap lagi.
Nggak langsung kinclong kayak habis ganti lensa kamera, tapi progresif membaik.
Itulah pengalaman pertama saya yang bikin saya langsung berpikir betapa pentingnya punya solusi cepat untuk #BebasMataKering di rumah.
Sejak kejadian itu, INSTO DRY EYES resmi pindah dari rak obat istri menjadi penghuni tetap di meja kerja saya, di sebelah monitor.
Sekarang kalau mata mulai kasih sinyal SePeLe lagi, saya nggak nunggu sampai jadi drama pembatalan acara. Langsung saya atasi.
Lucunya, dulu saya bisa review 10 fitur canggih di sebuah hp dalam 1000 kata, tapi gagal mendeteksi 3 mata Sepet, Perih, Lelah.
Padahal kalau dipikir-pikir, teknologi paling canggih yang kita punya itu bukan di genggaman, tapi yang nempel di wajah kita ini. Buat apa punya monitor 4K kalau mata kita sendiri burem?
Jadi buat teman-teman sesama pejuang layar, entah kamu penulis, programmer, gamer, atau admin olshop yang matanya nggak pernah libur, tolong jangan ulangi kebodohan saya.
Kalau sudah merasa ada gejala mata kering atau gejala Mata SEpet, PErih, LElah, jangan dianggap angin lalu karena #MataSePeLeJanganSepelein itu bukan sekadar jargon, tapi pengingat beneran supaya kita nggak harus bayar mahal dengan momen-momen penting yang hilang.
Post a Comment for "Cara Saya Mengatasi Mata Sepet dan Perih Akibat Kebanyakan Menatap Layar Komputer"